Pembanding

cermin Pembanding

cermin

Sejenak terperanjat, takjub. Dan akhirnya menunduk dalam malu

Assalamualaikum,
Pembanding, kita mungkin tidak akan pernah merasa diri kita pendek jika tidak ada orang lain yang lebih tinggi. Kita mungkin tidak akan pernah merasa diri kita bodoh jika tidak ada orang lain yang lebih pintar. Sebagian orang bisa saja tersinggung, marah saat dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Entah lebih cantik, lebih tampan, lebih kaya, lebih berilmu dan lain-lainnya. Tapi sadarkah? Tanpa ada orang-orang yang lebih dari kita, kita mungkin tak menyadari kalau kita bodoh, kalau kita sombong.

Ilustrasi,
Agus (bukan nama sebenarnya) adalah murid terpandai di sekolahnya. Nilainya selalu di atas 8, guru-guru memujinya, banyak teman yang senang tapi ada juga yang iri. Jika ada temannya yang kurang mengerti akan suatu pelajaran Agus tidak tinggal diam. Diajarinya dengan sabar temannya tersebut hingga bisa. Tidak pernah dia berkata kepada teman-temannya kalau dia paling pintar di sekolah. Tidak pernah ada temannya yang bilang kalau Agus orangnya sombong dan Agus sendiri juga menganggap dirinya tidak sombong karena selalu menularkan ilmunya kepada teman-temannya.
Hingga saatnya ia lulus, akhirnya dia melanjutkan ke sebuah perguruan tinggi di Jogja, jauh meninggalkan sekolahnya yang berada di sebuah desa terpencil. Tidak pernah dia merasa sombong dan akhirnya saat berada di Jogja, bercampur dengan orang-orang terpelajar lainnya yang jauh lebih pintar, lebih cakap bahkan dia sampai tertinggal pelajaran karena otaknya tidak bisa menampung rumus-rumus Fisika yang rumit. Berbeda dengan teman-teman barunya yang ternyata menganggap mudah bahkan enjoy dengan pelajaran tersebut.
Dia jatuh saat itu ketika tahu banyak yang lebih pintar darinya. Si Agus menilik ke dirinya sendiri. Apakah dirinya benar-benar ikhlas saat membantu temannya dulu, apakah ada sedikit rasa sombong dalam dirinya karena merasa lebih dari yang lain?
Bisa saja kita baru sadar akan kekurangan diri kita atau baru sadar akan kesalahan yang kita perbuat saat kita dipertemukan dengan sosok yang lebih dari diri kita. Pembanding kadang perlu untuk melihat apakah kita berbuat salah, apakah kita benar-benar pintar dan mungkin akan menguak hal-hal yang baru kita sadari. Mumpung masih diberi kesempatan merasakan Ramadhan, mari kita sama-sama berkaca pada diri kita sendiri dan tidak ada salahnya juga kita berkaca pada orang lain. Kadang kita tidak sadar apa yang telah diperbuat oleh diri ini adalah sebuah kesalahan.


Pada nyasar pake keyword:

KEMARAHAN DALAM ISLAM,pembanding,agus cermin gambar atau foto,minder dalam islam,sadar tidak sadar kita telah sombong,

Postingan yang mirip

This entry was posted in My Diary and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

facebook comments:

1 Comment

  • At 2010.09.01 11:33, pandi merdeka said:

    hohoho… perlu sih om .. tapi bukan untuk menjadi minder terus ngerasa bersalah tapi lebih kepada memacu semangat untuk lebih giat berlatih dan minum milo setiap hari hoho ~kabur

    (Required)
    (Required, will not be published)

    • Allah Berfirman:

      Katakanlah: "Mungkin telah hampir datang kepadamu sebagian dari (azab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu. [An-Naml 27:72]


    • email: adi88nugroho@gmail.com
      YM: adi88nugroho
      FB: fb.com/adinugroho.web.id
      Twitter: twitter.com/adi88nugroho
      Skype: adi88nugroho
    • Artikel Terbaru

    • Categories

    • Archives

    More in My Diary (72 of 230 articles)