Habitat, Fisiologi dan Reproduksi Ikan Botia

Ikan botiaPada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang klasifikasi, morfologi dan jenis ikan Botia. Kali ini mari kita membahas lebih detail mengenai jenis ini khususnya mengenai habitat, fisiologi dan reproduksinya.

Habitat Ikan Botia

Habitat ika botia berada di sungai, danau dan rawa rawa. Di alam, botia hidup di dasar perairan, bersembunyi di baik batu, batang kayu dan ranting. Mereka suka hidup berkelompong. Pada waktu masih kecil, ikan botia hidup dalam kelompok besar dan setelah dewasa maka mereka akan hidup dalam kelompok kelompok yang lebih kecil.

Botia hidup pada perairan dengan suhu 23 – 31 C (optimum 24 – 26 C), pH 6,5 – 8 (optimum 6,5 – 7,5) dan kesadahan 3 – 5 dH.

Fisiologi Ikan Botia

Botia adalah ikan yang aktif berenang, merayap di dasar sungai. Karena sifatnya yang suka merayap di dasar perairan itu para peternak menjulukinya sebagai perayap lumpur. Botia juga dikenal sebagai ikan pemalu, mudah terperanjat dan ketakutan, terutama jika ada suatu gerakan tiba tiba di dekatnya. Beberapa ikan terlihat agresif, suka berkelahi dan mengancam ika ikan muda.

Botia tergolong ikan yang aktif pada malam hari (nocturnal). Di waktu malam botia mencari makan dengan menggunakan sungut sebagai peraba, memangsa berbagai cacing dan organise lain yang ada di dasar perairan. Dalam pemeliharaan, botia dapat diberi makan cacing tanah, cacing sutera, artemia, daging udang, daging ikan, rebon (udang kecil) dan pelet ang kandungan proteinnya lebih besar dari 30%. Cacing rambut (Tubifex sp) merupakan salah satu pakan yang baik karena mengandung pigmen yang dapat memperindah warna botia. Di alam ikan ini merupakan ikan karnivora atau pemakan hewan /  daging, sehingga dalam kolam atau akuarium pemeliharaan btia harus diberi pakan dengan kandungan protein tinggi.

Sesuai dengan habitat ikan botia di alam, pemeliharaan botia di dalam akuarium hendaknya juga dilakukan secara berkelompok, 5 hingga 8 ekor dalam satu akuarium. Bila berkelompok ikan ini akan bergerombol mengelilingi akuarium sambil bercengkerama, saling menggesekkan badan dengan sirip menegak sehingga dapat menyajikan tontonan yang menarik. Perilaku lain yang menarik adalah tidur tergeletak pada satu sisi tubuhnya. Hal ini sering menimbulkan salah pengertian bagi pemeliharanya karena botia itu disangka sakit atau mati.

Reproduksi Ikan Botia

Di luar habitat alamnya, ikan Botia sulit melakukan reproduksi. Karena itu, pembenihan terkontrol dilakukan secara buatan dengan teknik kawin sntik (induced breeding). Di alam, ikan botia yang matang gonadnya memijah ada awal musim hujan, ada bulan Oktober – Desember.

Bila hendak memijah, botia yang sudah matang gonad akan berenang melawan arus menuju hulu sungai yang berair dangkal. Disepanjang sungai yang dangkal dan jernih itu induk botia memijah. Setelah memijah, ikan akan kembali ke hilir mengikuti aliran sungai. Saat memijah, botia melepaskan semua telurnya secara seremak.

Telur botia yang telah dibuahi akan menetas 14 – 26 jam setelah pembuahan. Anak anak ikan botia berkelompok dalam jumlah yang besar sehingga mudah ditangkap dalam jumlah banyak.

Botia mulai matang gonad setelah memiliki ukuran lebih dari 40 g untuk botia jantan dan lebih dari 70 g untuk ikan betina, atau panjangna telah mencapai lebih dari 15 cm. Ikan dengan ukuran 22 – 25 cm merupakan indukan dengan perkembangan gonad tercepat dan terbanyak. Ikan yang akan digunakan untuk pembenihan sebaiknya telah mencaai ukuran lebih dari 40 g untuk ikan jantan dan lebih dari 80 g untuk ikan betina.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *