Karakteristik Lahan Gambut

karakteristik lahan gambutKarakteristik lahan gambut sangat tergantung dari vegetasi dan hewan yang hidup di lahan tersebut. Karakteristik lahan gambut yang berada di iklim tropis berbeda dengan yang ada di subtropis. Hal ini dikarenakan lahan  gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang dibentuk oleh adanya penimbunan / akumulasi bahan organik di lantai hutan yang berasal dari reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu lama. Akumulasi ini terjadi karena lambatnya laju dekomposisi dibandingkan dengan laju penimbunan bahan organik di lantai hutan yang basah / tergenang tersebut.

Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang rapuh karena lahan ini berada ada suatu lingkungan rawa yang terletak di belakang (backswamo) tanggul sungai (levee) dan senantiasa tergenang sehingga tanah yang terbentuk pada umumnya merupakan tanah yang belum mengalami perkembangan seperti tanah tanah alluvial (Entisols) dan tanah tanah yang berkembang dari tumpukan bahan organik yag lebih dikenal sebagai tanah gambut atau tanah organik (Hitosols).

Lahan gambut merupakan tanah hasil akumulasi timbunan bahan organik. Tanah gambuk terbentuk secara alami dalam jangka waktu ratusan tahun dari pelapukan vegetasi yang tumbuh diatasnya. Proses dekomposisi tanah gambut beum terjadi secara sempurna, dikarenakan keadaan gambut yang dominan selalu jenuh sehingga tanah gambut memiliki tingkat kesuburan dan pH yang rendah. Gambut sendiri merupakan bahan berwarna hitam kecokelatan yang terbentuk dalam kondisi asam dan kondisi anaerobik lahan basah.

Gambut terdiri dari bahan organik yang sebagaian terurai secara bebas dengan komposisi lebih dari 50% karbon. Gambut terdiri dari lumut Sphagnum, sisa hewan dan sisa tanaman. Tidak seperti ekosistem lainnya, tanaman/hewan yang mati di lahan gambut tetap berada dalam lahan gambut tana mengalami pembusukan sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Ini terjadi karena kondisi air yang selalu menggenang, dimana terjadi kekurangan oksigen yang menyebabkan terhambatnya mikroorganisme untuk melakukan pembusukan tanaman/hewan yang sudah mati secara cepat.

Karakteristik lahan gambut berdasarkan proses awal pembentukannya sangat ditentukan oleh faktor faktor berikut ini :

  1. Jenis tumbuhan (evolusi pertumbuhan flora), seperti lumut (moss), rumput (herbaceous) dan kayu (wood)
  2. Proses humufikasi (suhu/iklim)
  3. Lingkungan pengendapan

Semua sebaran endapan gambut berada pada kelompok sedimen alluvium rawa zaman kuarter holosen. okasi gambut umumnya berada dekat pantai hingga puluhan kilometer ke pedalaman. Ketebalan maksimum gambut yang pernah diketahui mencapai 15 m di Riau. Endapan gambut terdapat di atas permukaan bumi dan dapat dikenal dan dibedakan secara megaskopis di lapangan. Salah satu cara mengenal endapan gambut secara megaskopis adalah berdasarkan ciri sifat fisiknya yang sangat lunak penyerupai tanah lumpur atau humus yang berasal dari gabungan bagian tumbuhan yang sudah membusuk seperti daun, batang, rating dan akar. Endapan gambut umumnya berwarna cokelat muda hingga cokelat tua sampai gelap kehitaman, sangat lunak, mudah ditusuk, mengotori tangan, bila diperas mengeluarkan cairan gelap dan meninggalkan ampas sisa tumbuhan yang didapat dari permukaan bumi hingga beberapa meter tebalnya.

Endapan gambut di permukaan daat ditumbuhi berbagai spesies tumbuhan mulai dari sipesies lumut, semak hingga pepohonan besar. Gambut yang berwarna lebih gelap biasanya menunjukkan tingkat pembusukan lebih cepat. Secara makroskopis gambut tropis seperti yang ada di Indonesia umumnya terdiri dari sisa sisa akar, batang dan daun dalam jumlah yang berlimpah sebaliknya gambut lumut didominasi oleh ssa tumbuhan lumut seperti yang ada di Finlandia.

Karakteristik lahan gambut yang penting dalam pemanfaatannya untuk pertanian meliputi kadar air, berat isi (Bulk density), daya menahan bebas (bearing capacity), subsiden (penurunan permukaan) dan mengering tidak balik (irriversible drying).

Volume gambut akan menyusut bila lahan gambut berada di drainase sehingga terjadi penurunan permukaan tanah (subsiden). Selain karena penyusutan volume, subsiden juga terjadi karena adanya proses dekomposisi dan erosi. Dalam 2 tahun pertama setelah lahan gambut di drainase, laju sibsiden bisa mencapai 50 cm. Pada tahun berikutnya laju subsiden sekitar 2-6 cm/tahun bergantung kematangan gambut dan kedalaman saluran drainase. Adanya subsiden bisa dilihat dari akar tanaman yang menggantung.

Karakteristik lahan gambut yang rendah bulk density menyebabkan daya menahan atau menyangga beban (bearing capacity) menjadi sangat rendah. Hal ini menyulitkan beroperasinya peralatan berat karena tanahnya yang empuk. Gambut juga tidak bisa menahan tanaman tahunan untuk berdiri tegak, tanaman perkebunan seerti karet, kelapa sawit atau kelapa sering kali doyong atau bahkan roboh. Pertumbuhan doyong ini terkadang dianggap sebagai hal yang menguntungkan bagi petani karena memudahkannya untuk memanen sawit.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *