Sejarah Perkembangan Mikrobiologi

Sejarah MikrobiologiDalam Sejarah perkembangan mikrobiologi yang tercatat, pertama kali diterangkan oleh Aristoteles (384 SM), bahwa makhluk hidup yang kecil (yang disebut mikrobia) itu berasal dari benda mati. Teori Aristoteles ini dipertegas oleh Nedhem (1750) yang menyatakan bahwa mikrobia terjadi secara spontan dari benda benda yang tidak hidup dalam suatu cairan bahan organik. Oleh sebab itu dikenal dengan abiogenesis atau generatiospontanea/spontaneous generation.

Tetapi, kemudian dalam sejarah perkembangan mikrobiologi selanjutnya teori ini terbantahkan. Perkembangan itu diawali dengan pengembangan alat pembesar menjadi mikroskop oleh Anthony Leeuwenhook (Peneliti Belanda, 1632 – 1723) pada tahun 1685. Dengan penemuan mikroskop ini, maka bagian organisme yang kecil dan jaringan sel dalam hal ini mikrobia khususnya bakteri dapat dilihat dengan jelas. Apabila kita lihat dari segi ilmu pengetahuan, maka penemuan beliau ini sangat berarti sekali bagi kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga ia mendapat julukkan sebagai peletak dasar dasar mikrobiologi.

L. Spallanzani (1929 – 1999) orang yang merupakan perintis teori yang berlawanan dengan sebelumnya. Beliau merintis paham yang disebut dengan teori biogenesis. Paham ini kemudian dilanjutkan oleh Frans Schulte dan T. Schwann (1836), ketiganya berpendapat bahwa mikrobia terjadi dari benih yang selalu ada di udara dan jika bahan itu masuk kedalam cairan organik yang cocok untuk pertumbuhannya, maka mikrobia mikrobia akan tumbuh menjadi suatu organisme. Hasil inilah yang menyebabkan teori sebelumnya menjadi gugur, bahkan pada tahun 1860 Louis Pasteur membuktikan bahwa abiogenesis merupakan sesuatu yang tidak mungkin, maka ia memperkuat dengan adanya onme vivum ex ovo, omne ovum ex vivo (Setiap kehidupan berasal dari telur, setiap telur berasal dari kehidupan).

Sebagai tindak lanjut dari penemuan mikroskop teori Louis Pasteur di atas maka Robert Kock (Dokter Jerman) pada tahun 1876, menemukan kuman (bakteri) penyebab penyakit anthraks,yang disebut Bacillus antracis. Penyakit ini berbahaya pada hewan ternak, namun dapat pula menular pada manusia (disebut zoonosis). Selain itu Robert Kock telah menemukan penyakit Septichemia atau disebut keracunan darah. Ia juga menumukan kuman TBC serta Kolera pada tahun 1884.

Pada tahun 1864, Joseph Lister (1827 – 1912) seorang ahli bedah berkebangsaan Inggris, mendeteksi infeksi yang terjadi pada luka dan dapat pula mengetahui cara mencegah timbulnya infeksi yang terjadi pada luka karena operasi tersebut, dengan kata lain ia menemukan antiseptik yaitu ulter’s antiseftik yang disebut juga sebagai germ destroying menthode.

Penemu penemu lain yang tak kalah pentingnya dalam mikrobiologi adalah Loeffter (1884), menemukan penyebab Dhiptheria, kemudian Neisser (1879) yang menemukan bakteri penyebab penyakit kelamin Gonorrchoe yang dikenal dengan Neiseria gonotchea, Ahli mikrobia jepang Kitasato tahun 1884, menemukan bakteri penting penyebab penyakit tetanus, yaitu Clostridium tetani, beliau pula yang menemukan penyebab penyakit Pes.

Di Indonesia sendiri Sejarah Perkembangan Mikrobiologi kurang begitu pesat hingga tahun 2000an, dimana banyak peneliti Indonesia yang melakukan penelitian di bidang mikrobiologi. Salah satu Ahli Mikrobiologi Indonesia yang paling hebat saat ini adalah Prof. Endang Sutariningsih Soetarto, beliau merupakan ahli mikrobiologi khususnya dibidang mikrobiologi tanah dan merupakan profesor di fakultas Biologi UGM.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *